Proin posuere faucibus
Tellus sit amet urna pulvinar
Quisque eget mauris at elit

Service 1 Heading Here

princeton-97827_1280

Phasellus fringilla vehicula egestas. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Nam gravida porta tellus sit amet commodo.

Service 2 Heading Here

san-jose-92464_1280

Phasellus fringilla vehicula egestas. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Nam gravida porta tellus sit amet commodo.

Service 3 Heading Here

academic-2769_1280

Phasellus fringilla vehicula egestas. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Nam gravida porta tellus sit amet commodo.

Selasa, 06 November 2012

Susunan Badan Peradilan Negeri Tingakat Pertama dan Banding



Pasal 10 ayat (1) Susunan Pengadilan Negeri terdiri dari Pimpinan, Hakim Anggota, Panitera, Sekretaris, dan Jurusita.
a.    Pimpinan : Pasal 11 ayat (1) Pimpinan Pengadilan Negeri terdiri dari seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua.
b.    Panitera : pasal 27 ayat (1) Pada setiap Pengadilan ditetapkan adanya Kepaniteraan yang dipimpin oleh seorang Panitera. (2) Dalam melaksanakan tugasnya Panitera Pengadilan Negeri dibantu oleh seorang Wakil Panitera, beberapa orang Panitera Muda, beberapa orang Panitera Pengganti, dan beberapa orang Jurusita.
c.    Sekertaris : Pasal 44 Pada setiap Pengadilan ditetapkan adanya Sekretariat yang dipimpin oleh seorang Sekretaris dan dibantu oleh seorang Wakil Sekretaris.
d.    Jurusita : Pasal 39 Pada setiap Pengadilan Negeri ditetapkan adanya Jurusita dan Jurusita Pengganti.

Pasal (2) Susunan Pengadilan Tinggi terdiri dari Pimpinan, Hakim Anggota, Panitera, dan Sekretaris.
a.    Pimpinan : Pasal 11 ayat (2) Pimpinan Pengadilan Tinggi terdiri dari seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua.
b.    Hakim Anggota : Pasal 11 ayat (3) Hakim Anggota Pengadilan Tinggi adalah Hakim Tinggi.
c.    Panitera : pasal 27 ayat (1) Pada setiap Pengadilan ditetapkan adanya Kepaniteraan yang dipimpin oleh seorang Panitera. Dan ayat (3) Dalam melaksanakan tugasnya Panitera Pengadilan Tinggi dibantu oleh seorang Wakil Panitera, beberapa orang Panitera Muda, dan beberapa orang Panitera Pengganti.
d.    Sekertaris : Pasal 44 Pada setiap Pengadilan ditetapkan adanya Sekretariat yang dipimpin oleh seorang Sekretaris dan dibantu oleh seorang Wakil Sekretaris.

Tugas dan Wewenang Hakim Pengadilan Negeri




Tugas Hakim Pengadilan Negeri
Tugas seorang hakim Pengadilan Negeri diatur dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2004 tentang Pengadilan Negeri.

Pasal 2 ayat (1): Tugas pokok dari pada hakim adalah menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya.

Pasal 5 ayat (2): Dalam perkara perdata hakim harus membantu para pencari keadilan dan berusaha sekeras-kerasnya mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat tercapainya peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan.

Pasal 14 ayat (1): Hakim tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili sesuatu perkara dengan dalih bahwa hukum tidak atau kurang jelas, melainkan ia wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.

Wewenang Hakim yaitu:
Pasal 159 ayat (4): Hakim berwenang untuk menolak permohonan penundaan sidang dari para pihak, kalau ia beranggapan bahwa hal tersebut tidak diperlukan.

Pasal 175: Diserahkan kepada timbangan dan hati-hatinya hakim untuk menentukan harga suatu pengakuan dengan lisan, yang diperbuat di luar hukum.
Pasal 180 ayat (1) Ketua PN dapat memerintahkan supaya suatu keputusan dijalankan terlebih dahulu walaupun ada perlawanan atau bandingnya, apabila ada surat yang sah, suatu tulisan yang menurut aturan yang berlaku yang dapat dkeputusan yang sudah mendapat kekuasaan yang pasti, demikian juga dikabulkan tuntutan dahulu, terlebih lagi di dalam perselisihan tersebut terdapat hak kepemilikan. 

Pasal 180 ayat (2) Akan tetapi dalam hal menjalankan terlebih dahulu ini, tidak dapat menyebabkan sesorang dapat ditahan.iterima sebagai bukti atau jika ada hukuman lebih dahulu dengan

Prosedur Beracara dalam PA



Perkara diajukan ke Pengadilan Agama melalui petugas kepaneteraan
A . Menerima
    1.    Menerima gugatan atau permohonan
    2.    Memberikan penjelasan yang dianggap perlu  dan menaksir panjar     biaya perkara yang kemudian ditulis dalam Surat Kuasa untuk     membayar (SKUM).
    3.    Menyerahkan kembali surat gugatan/permohoan beserta SKUM
    4.    Pembayaran panjar biaya perkara. (pasal 90 bab III UU no. 50 th     2009)
    5.        Mendaftar/mencatat surat gugatan atau permohonan
    6.    Penelitian terhadap kelengkapan perkara(bentuk dan isi surat     gugatan)
    7.    Penyampaian berkas perkara kepada ketua Pengadilan Agama
    8.    Penetapan Penunjukan Majelis Hakim (PMH) oleh Ketua PA
    9.    Penetapan Hari Sidang (PHS) oleh ketua majelis
    10.    Pemanggilan  pihak-pihak kemuka sidang    
B.    Memeriksa
    UU no. 50 th 2009 bab III pasal 59 (1) mengharuskan semua sidang pemeriksaan perkara di Pengadilan terbuka untuk umum kecuali ditentukan lain oleh UU, seperti bagi permohonan cerai talak dilakukan dalam sidang tertutup (pasal 68 (2) bab IV UU no. 50 th 2009).
    1.    Pembukaan sidang pertama
    2.    Penanyaan identitas pihak pihak-pihak
    3.    Pembacaan surat gugatan
    4.    Anjuran damai
    5.    Replik-Duplik
    6.    pembuktian
    7.    Penyusunan Konklusi
    8.    Musyawarah Majlis Hakim (pasal 50 (3) bab III UU no. 50 th 2009 )
C.    Memutuskan
    Pengucapan keputusan dilakukan dalam sidang terbuka untuk umum
    (pasal 60 bab IV UU no. 50 th 2009)
    “Penetapan dan putusan pengadilan hanya san dan mempunyai kekuatanhukum apabila diucapkann dalam sidang terbuka utuk umum”

Prosedur Beracara dalam PA



Perkara diajukan ke Pengadilan Agama melalui petugas kepaneteraan
A . Menerima
    1.    Menerima gugatan atau permohonan
    2.    Memberikan penjelasan yang dianggap perlu  dan menaksir panjar     biaya perkara yang kemudian ditulis dalam Surat Kuasa untuk     membayar (SKUM).
    3.    Menyerahkan kembali surat gugatan/permohoan beserta SKUM
    4.    Pembayaran panjar biaya perkara. (pasal 90 bab III UU no. 50 th     2009)
    5.        Mendaftar/mencatat surat gugatan atau permohonan
    6.    Penelitian terhadap kelengkapan perkara(bentuk dan isi surat     gugatan)
    7.    Penyampaian berkas perkara kepada ketua Pengadilan Agama
    8.    Penetapan Penunjukan Majelis Hakim (PMH) oleh Ketua PA
    9.    Penetapan Hari Sidang (PHS) oleh ketua majelis
    10.    Pemanggilan  pihak-pihak kemuka sidang    
B.    Memeriksa
    UU no. 50 th 2009 bab III pasal 59 (1) mengharuskan semua sidang pemeriksaan perkara di Pengadilan terbuka untuk umum kecuali ditentukan lain oleh UU, seperti bagi permohonan cerai talak dilakukan dalam sidang tertutup (pasal 68 (2) bab IV UU no. 50 th 2009).
    1.    Pembukaan sidang pertama
    2.    Penanyaan identitas pihak pihak-pihak
    3.    Pembacaan surat gugatan
    4.    Anjuran damai
    5.    Replik-Duplik
    6.    pembuktian
    7.    Penyusunan Konklusi
    8.    Musyawarah Majlis Hakim (pasal 50 (3) bab III UU no. 50 th 2009 )
C.    Memutuskan
    Pengucapan keputusan dilakukan dalam sidang terbuka untuk umum
    (pasal 60 bab IV UU no. 50 th 2009)
    “Penetapan dan putusan pengadilan hanya san dan mempunyai kekuatanhukum apabila diucapkann dalam sidang terbuka utuk umum”


Prosedur Beracara dalam PA


Perkara diajukan ke Pengadilan Agama melalui petugas kepaneteraan
A . Menerima
    1.    Menerima gugatan atau permohonan
    2.    Memberikan penjelasan yang dianggap perlu  dan menaksir panjar     biaya perkara yang kemudian ditulis dalam Surat Kuasa untuk     membayar (SKUM).
    3.    Menyerahkan kembali surat gugatan/permohoan beserta SKUM
    4.    Pembayaran panjar biaya perkara. (pasal 90 bab III UU no. 50 th     2009)
    5.        Mendaftar/mencatat surat gugatan atau permohonan
    6.    Penelitian terhadap kelengkapan perkara(bentuk dan isi surat     gugatan)
    7.    Penyampaian berkas perkara kepada ketua Pengadilan Agama
    8.    Penetapan Penunjukan Majelis Hakim (PMH) oleh Ketua PA
    9.    Penetapan Hari Sidang (PHS) oleh ketua majelis
    10.    Pemanggilan  pihak-pihak kemuka sidang    
B.    Memeriksa
    UU no. 50 th 2009 bab III pasal 59 (1) mengharuskan semua sidang pemeriksaan perkara di Pengadilan terbuka untuk umum kecuali ditentukan lain oleh UU, seperti bagi permohonan cerai talak dilakukan dalam sidang tertutup (pasal 68 (2) bab IV UU no. 50 th 2009).
    1.    Pembukaan sidang pertama
    2.    Penanyaan identitas pihak pihak-pihak
    3.    Pembacaan surat gugatan
    4.    Anjuran damai
    5.    Replik-Duplik
    6.    pembuktian
    7.    Penyusunan Konklusi
    8.    Musyawarah Majlis Hakim (pasal 50 (3) bab III UU no. 50 th 2009 )
C.    Memutuskan
    Pengucapan keputusan dilakukan dalam sidang terbuka untuk umum
    (pasal 60 bab IV UU no. 50 th 2009)
    “Penetapan dan putusan pengadilan hanya san dan mempunyai kekuatanhukum apabila diucapkann dalam sidang terbuka utuk umum”

Alasan dan Prosedur Permohonan PK dalam PA



Alasan permohonan PK
(pasal 67 bab IV UU no. 14 th 1985)
a.    apabila putusan didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu;
b.    apabila setelah perkara diputus, ditemukan surat-surat bukti yang bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksa tidak dapat ditemukan;
c.     apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih dari pada yang dituntut;
d.    apabila mengenai sesuatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebab-sebabnya;
e.    apabila antara pihak-pihak yang sama mengenai suatu soal yang sama, atas dasar yang sama oleh Pengadilan yang sama atau sama tingkatnya telah diberikan putusan yang bertentangan satu dengan yang lain;
f.    apabila dalam suatu putusan terdapat suatu kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan yang nyata.

Prosedur permohonan PK
    Permohonan PK diajukan sendiri oleh pihak yang berperkara
    Dilakukan dalam waktu 180 sejak putusan atau penetapan mempunyai kekuatan hukum tetap (Pasal 69 UU No. 5 tahun 2004)
    Pembayaran biaya perkara (Pasal 70 UU No. 45 tahun 2004, pasal 89 dan 90 UU No. 7 tahun 1989)
    Pembuatan akta PK dan pendaftaran
    Pemberitahuan kepada pihak lawan
    Pengajuan jawaban dari pihak lawan dalam tenggang waktu 30 hari
    Pengiriman berkas perkara ke Mahkamah Agung dalam waktu 30 hari

Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN)



A.    Pengertian PTUN
Menurut Rozali Abdullah, hukum acara PTUN adalah rangkaian perturan-peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan Tata Usaha Negara. Pengaturan terhadap hukum formal dapat digolongkan menjadi dua bagian, Yaitu:
1.    Ketentuan prosedur berperkara diatur bersama-sama dengan hukum materiilnya peradilan dalam bentuk UU atau perturan lainnya.
2.    Ketentuan prosedur berperkara diaturtersendiri masing-masing dalam bentuk UU atau bentuk peraturan lainnya.
Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman untuk rakyat yang mencari keadilan terhadap sengketa tata usaha negara. Sengketa tata usaha negara adalah sengketa yang terjadi antara badan atau kantor tata usaha negara dengan warga negara. PTUN diciptakan untuk menyelesaikan sengketa antara pemerintah dan warga negaranya. Dalam hal ini, sengketa timbul sebagai akibat dari adanya tindakan-tindakan pemerintah yang melanggar hak-hak warga negara. Dengan demikian PTUN ditujukan pula untuk melindungi rakyat dari tindakan-tindakan pemerintah yang tidak populis. Singkatnya, PTUN tidak hanya melindungi hak-hak tunggal saja, tetapi juga melindungi hak-hak warga negara sebagai suatu masyarakat.

B.    Dasar hukum PTUN
Dasar peradilan dalam UUD 45 dapat ditemukan dalam pasal 24. Sebagai pelaksanaan dalam pasal 24 UUd 1945, dikeluarkanlah UU No. 14 tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan kehakiman.kekuasan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan:
1. Peradilan Umum
2. Peradilan Agama
3. Peradilan militer
4. Peradilan Tata Usaha Negara
Dengan berlakunya UU No. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang berdasarkan Pasal 144 dapat disebut UU peradilan Administrasi Negara, maka dewasa ini perlindungan hukum terhadap warga masyarakat atas perbuatan yang dilakukan oleh penguasa dapat dilakukan melalui badan yakni:
a. Badan Tata Usaha Negara, dengan melalui upaya administrative.
b. Peradilan Tata Usaha Negara, Berdasarkan UU No. 5 tahun 1986 tentang PTUN.
c. Peradilan Umum, melalui Pasal 1365 KUHPer.
Copyright © Peradilan di Indonesia | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com